Akhir-akhir ini banyak orang yang membicarakan kebangkitan Hindu, tapi kita belum menyadari bagaimana caranya sehinggu Hindu bisa bangkit. Melalui tulisannya di Media Hindu (edisi 56 bulan Oktober 2008), Sdr. Made Subagia memberikan cara/tips kepada kita bagaimana caranya kita bisa berpartisipasi secara individu dalam rangka kebangkitan Hindu. Dengan harapan, setiap individu melakukan dan menjadi gerakan massal. Cara sederhana tersebut:
1. Melakukan Puja Tri Sandhya atau Gayatri Mantram.
Cara ini dapat dilakukan oleh semua orang Hindu baik dalam keluarga sendiri maupun di masyarakat. Kepala keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan rohani istri dan anak serta menjadi panutan agar mampu mempertahankan keyakinan di masa yang akan datang.
Puja Tri Sandhya atau Gayatri mantram dilakukan 3 kali sehari yaitu
a. Pada pagi hari (Brahma Muhurtam) disebut Pratasewana dari pukul 03.30 s/d 08.00.
b. Pada siang hari disebut Madyasewana dari pukul 12.00 s/d 14.00.
c. Pada sore hari disebut Sandyasewana dari pukul 18.00 s/d 20.00
Ditambahkan juga, agar dilakukan meditasi singkat 5-10 menit setiap selesai melakukan puja Tri Sandhya. Ini penting untuk membangkitkan kesadaran dalam diri kita masing-masing.
2. Menggunakan panganjali atau istilah-istilah Hindu.
Kita sering tidak percaya diri dan kebanggaan akan Hindu. Gunakan panganjali dan istilah-istilah Hindu, bukan berarti meniru tetapi memberikan rasa percaya diri dan tauladan kepada keluarga dan teman.
3. Hindu harus menjadi agama missi.
Hindu memang dari dulu agama missi tetapi kita tidak dalam menjalankan missi itu karena kita kurang memahami Hindu. Mari mulai saat ini belajar, bertanya dan sebarkan kebenaran Hindu mulai dari diri kita kepada lingkungan kita dan termasuk hadir dalam setiap acara pemahaman tatwa seperti Dharma tula , Dharmawacana dll.
4. Jangan berkata “SEMUA AGAMA ADALAH SAMA”.
Jangan sekali-kali berpikir dan berkata bahwa semua agama adalah sama. Agama Hindu dan agama non Hindu sangat berbeda. Agama Hindu sangat lengkap dan mengajarkan kita bagaimana mencapai Brahman tetapi di tempat lain itu tidak ada. Berbahagialah dan bangga menjadi Hindu, karena hanya jalan Hindu yang mengantar kita menyatu dengan Brahman.
Banyak orang Hindu yang pindah agama karena iming-iming harta, jabatan, cewek cantik dsb karena sebenarnya dia tidak memahami Hindu.
5. Melakukan pembinaan bagi orang yang baru masuk Hindu.
Jangan segan-segan menerangkan sedikit tentang Hindu kepada mereka yang telah masuk Hindu dan ingin tahu tentang Hindu. Kita harus selalu menyambut kepada mereka dengan tangan terbuka dan jangan berburuk sangka.
6. Hindu harus tegas, agama atau budaya.
Disadari memang, penyebaran Hindu menggunakan unsur-unsur budaya tetapi mari kita tekankan mana aspek agama atau aspek budaya serta memertajam makna tatwanya sehingga orang-orang Hindu tidak mudah dikonversi.
7. Hindu, berbeda tapi harus tetap satu.
Kita harus memberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan Ke-Hindu-annya dalam kerangka Veda. Jangan memaksakan satu model dalam Hindu sehingga Hindu dapat tegak bersatu dalam perbedaan.
8. Hindu di Bali, adat harus fleksibel
Hindu di Bali sudah sangat bagus dengan berbasiskan budaya dan agama Hindu tetapi diperlukan ruang untuk evaluasi budaya yang menyimpang dari nilai-nilai Veda.
9. Punia sebagai gerakan moral dan finansial
Ditambahkan disini Punia sebagai gerakan moral dan finansial. Terkadang, saking bersemangatnya untuk kebangkitan Hindu, kita selalu berpunia untuk segala kegiatan. Ini tentu bagus tetapi tidak bisa membangkitkan Hindu dalam jangka panjang. Mari dukung punia yang bersifat jangka panjang sebagai gerakan moral dan finansial sehingga kebangkitan Hindu bersifat jangka panjang.
Blog sederhana, yang menyinggung khasanah budaya bali dan keagungan Hindu di dalamnya.
Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 April 2010
Ringkasan bhagavad Gita
Ringkasan Bhagavad Gita
Bhagavad-gita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah "Nyanyian Sri Bhagavan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna; ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi,kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang di miliki sekaligus secara bersamaan).
Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada "Bhismaparwa". Adegan ini terjadi pada permulaan Bharatayuddha. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang kuruksetra di antara pasukan kurava dan pandava. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagavad-gita oleh Sri Krishna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.
Penulis
Penulis Bhagavad-gita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa. Bhagavad-gita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagavadgita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan
Daftar isi
Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:
• BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk bertempur. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk bertempur dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga kekuatannya menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.
• BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Krishna, kemudian Krishna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yanag bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Sri Krishna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
• BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kegiatan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dibebaskan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan cara bertindak untuk memuaskan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
• BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak jaman purbakala, tujuan dan makna Beliau sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
• BAB V Karma Yoga, Perbuatan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oelha api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kegiatan tetapi melapaskan ikatan terhadap hasil perbuatan dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
• BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latian meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memusatkan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi artinya sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
• BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
• BAB VIII Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
• BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kegiatan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.
• BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan kekuatan, keindahan, sifat agung atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi bagi para mahluk.
• BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Beliau memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam semesta. Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang murni
• BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdia Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdia suci yang murni kebada Sri Krishna, adalah cara tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang murni kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
• BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, ORang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
• BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) - Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan arit sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang yang sudah lepas dari tiga sifat alam).
• BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah melepaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
• BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
• BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Ada tiga jenis keyakinan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di antara tiga sifat alam. Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
• BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan arti dari pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kegiatan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; jalan kerohaniantertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Jalan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang kekal.
• Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali
• Cuplikan adegan Arjuna yang menghadap Bhatara Wisnu dalam komik Mahabharata oleh R.A. Kosasih.
• Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.
Bhismaparwa
Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita ada pula. Tetapi menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.
Bharatayuddha
Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini berasal dari pupuh 10, bait 12 dan 13: ayat-ayat selanjutnya dalam Bhagavad Gita kemungkinan dihilangkan oleh penjajah setelah Hindu berkuasa, karena bertolak belakang dengan ajaran baru tersebut.
(12)
mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepan
ri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang waneh
hana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh paman
makâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru
(13)
ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteher
aminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawa
kuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâpranga
apan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing paprangan
Terjemahan
(12)
Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihan
sebab musuh-musuhnya bukanlah orang asing
ada sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-paman
seperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).
(13)
Oleh sebab itu, ia lalu berbicara kepada prabu Kresna,
meminta supaya ia menghentikan peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.
Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperang
sebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.
Aneh

Berikut ini merupakan kejadian nyata tentang keberadaan Pura ‘aneh, artikel ini aslinya saya dapatkan di www.nyamakotabaru.multiply.com berikut langsung saja disimak dibawah ini.
Mungkin aneh terdengar di telinga para pembaca, tetapi itulah adanya. Katanya ada kabupaten lain yang menjadi tetangga Kabupaten Kotabaru, tetapi secara fisik tidak ada karena tidak kelihatan. Kalau selama ini kita hanya mempercayai segala sesuatu setelah ditangkap oleh organ-organ indera, bagaimana bisa mempercayai apa yang terjadi di Kabupaten ini ? Cerita orang-orang, konon kabupaten yang dimaksud adalah Kabupaten Suranjanaâ. Kabupaten kaya, megah dan luar biasa, yang hanya ada dalam cerita, tetapi tidak bisa dilihat keberadaannya. Ceritanya pula, sejak lama banyak orang kaya di kabupaten ini membeli mobil-mobil mewah di Surabaya. Setelah dicek ke Kotabaru, tidak dapat ditemukan seorangpun yang ada di alamat dimaksud.
Kita tidak akan membicarakan masalah keberadaan dan kebenaran keberadaan “Kabupaten Suranjana†tersebut. Tetapi keberadaan sebuah Pura di wilayah kabupaten Kotabaru(Kecamatan Tanjung Seloka) yang tidak ada penyungsungnya. Warga/umat Hindu di Kotabaru mengetahui dengan baik bahwa di sekitar Pura itu tidak ada umat Hindu. Juga tidak ada lokasi transmigrasi yang menganut agama Hindu. Kenapa di daerah itu dibangun pura ? Siapa yang menyuruh pihak perusahan untuk membangun pura di lingkungan perusahaannya, atas permintaan siapa ? Banyak pertanyaan lainnya dapat dijukan sehubungan dengan keberadaan pura misterius ini.
Pura ini berada di wilayah kecamatan Pulau Laut Selatan(Tanjung Seloka) di dalam kawasan Perusahan PT. Mangium Anugrah Lestari atau lebih sering disebut PT. MAL. Sebuah perusahan asing yang membuat bahan baku untuk pembuatan kertas. Bahan baku yang kertas tersebut selanjutnya dikirim ke Surabaya, Samarinda bahkan keluar negeri. Kebetulan perusahan tersebut berada di tepi pantai, sehingga pura itu juga berada ditepi pantai. Udara pantai yang bersih turut meningkatkan nuansa kesucian dari pura tersebut. Lokasi pura ini berupa daerah yang menjulur kelaut(tanjung), dan masyarakat sekitarnya menyebut Tanjung Keramat. Menurut penuturan masyarakat setempat daerah itu memang merupakan daerah keramat. Sampai sekarang Tanjung Keramat sering dijadikan tempat untuk melakukan upacara korban/syukuran oleh penduduk sekitar yang semuanya beragama Islam.
Sebenarnya sejak lama sudah ada yang memberikan informasi kepada penulis akan keberadaan pura tersebut. Akan tetapi penulis abaikan karena tidak mungkin ada pura karena tidak ada umat Hindu disana. Justru saat penulis sedang mengurus perpindahan ke Bali, teman-teman di Kabupaten Tanah Bumbu kembali memberikan informasi dan kepastian akan keberadaan pura dimaksud. Dengan penuh semangat bapak Wayan Sukarma mengajak untuk mengunjunginya. Akhirnya dari Bali penulis memutuskan untuk mendatangi pura tersebut. Kami kumpulkan teman-teman di Kotabaru untuk mempersiapkan segala sesuatunya guna mengunjungi pura tersebut. Perjalanan Tirtayatra ke pura tersebutpun kami lakukan. Rombongan sebanyak 16 orang terdiri dari Jero Mangku, penyuluh agama Hindu, guru agama Hindu, PHDI, polisi dan tokoh umat lannya berangkat hari Sabtu, 20 Desember 2008. Berangkat dari Pulau Laut Utara(Kota) pukul 08 00 WITA menuju Pulau Laut Selatan(Tanjung Seloka) dan tiba di pura pukul 14 15 WITA.
Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Dari awal dan dalam perjalanan kami semuanya dipenuhi rasa was-was, takut pura yang dimaksud tidak ada, atau tidak berhasil ditemukan. Akan tetapi, perasaan lega luar biasa kami rasakan setelah kami bisa menemukan pura itu. Sebab, sebelumnya semua pikiran anggota rombongan penuh keraguan dan tanda tanya.
Bangunan utama pura adalah padmasana setinggi kurang lebih 4 meter, lengkap dengan atribut Bedawang Nala, Naga Anantabhoga dan atribut lainnya. Selain padmasana ada lagi dua pelinggih lain di mandala utama. Di tempat lain yang terpisah dari mandala utama didirikan juga pelinggih-pelinggih lain. Di tepi pantai didirikan pelinggih untuk Hyang Baruna. Sedangkan di salah satu areal sumur juga di bangun pelinggih untuk Hyang Wisnu. Penempatan pelinggih-pelinggih tersebut sepenuhnya permintaan dari alam Niskala. Demikianlah permintaan alam niskala kepada ibu Toni. Pan Mandri dengan temantemannya hanya mengerjakan apa yang disarankan oleh bu Tony(istri Maneger Pabrik).
Menurut penuturan ibu Toni yang mempunyai kemampuan melihat alam Niskala katanya sebelum dibangun pura tersebut sering terjadi kecelakaan yang dialami kapal-kapal yang akan melakukan Loading di Pelabuhan perusahan itu. Sering juga terjadi gangguan-gangguan di tempat kerja. Berbagai kerusakan tanpa penyebab yang terjadi pada peralatan-peralatan di pabrik. Walau telah mendatangkan teknisi yang profesionalpun alat-alat tersebut tetap tidak dapat bekerja. Aneh sekali, begitu bahan bangunan pura tiba dilokasi pabrik, peralatan yang tadinya rusak tiba-tiba normal kembali. Termasuk seorang karyawan asing yang mengalami cedera di punggungnya mendadak sembuh.
Dari informasi yang berhasil didapatkan dari ibu Toni, dikatakan bahwa pura ini didirikan bukan semata-mata untuk menyelamatkan pabrik yang sering mengalami kerusakan atau untuk menghindarkan orang-orang yang bekerja dipabrik dari berbagai musibah akibat campur tangan pihak makhluk Niskala, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam semesta agar terhindar dari berbagai bencana. Kata bu Tony, alam di Tanjung Seloka terutama lautannya mempunyai ombak yang ganas. Untung di pantai ini ada tempat suci yang dijadikan tempat oleh makhluk alam gaib untuk mendoakan alam semesta. Tempat suci ini secara sekala berada di lingkungan Pabrik. Bu tony, meminta suaminya yang menjadi manajer diperusahaan PT. MAL ini untuk membangun pura. Walaupun bu Tony dan suaminya beragama Kristen, kewajibannya untuk membangun Pura di lingkungan pabrik tetap harus dilaksanakan.
Ritual apapun yang dilaksanakan di Besakih, ritual yang sama juga dilakukan di pura ini. Konon pura ini disungsung oleh semua makhluk halus dari seluruh wilayah daratan maupun lautan di Kalimantan. Menurut ibu Toni lagi, Pura Besakih memancarkan vibrasi kesucian sampai di benua Australia. Sementara itu, pura ini vibrasi kesuciannya menyebar sampai di wilayah Makasar. Pura ini memang didirikan secara khusus bagi makhluk halus di alam Niskala. Merekalah yang meminta pendirian pura ini. Namun demikian, pihak perusahaan (bu Tony) mempersilahkan umat Hindu dari mana saja memanfaatkan pura ini untuk beribadah.
Beberapa keajaiban aneh berkaitan dengan keberadaan pura tersebut diantaranya;
1. Kurang lebih 14 hari sebelumnya teman kami Nyoman Arnawa(30 tahun) dua kali berturut-turut bermimpi diajak mengunjungi sebuah pura diatas laut. Nyoman menceritakan kisah dan ciri-ciri pura dalam mimpinya dengan saudaranya di Bali. Nyoman didatangi seorang laki-laki gagah dengan pakaian kebesaran dan diiringi oleh pengawalnya berupa kura-kura kecil yang dengan tiba-tiba berubah menjadi sangat besar, dan seekor naga raksasa(besar). Anehnya waktu mimpinya itu persis sama dengan saat Bapak Wayan Sukarma memberikan informasi dan menghubungi penulis. Ketika itu pula penulis memutuskan untuk mendatangi pura tersebut. Nyomanpun kaget setengah mati setelah melihat pura itu sama persis dengan apa yang dia lihat didalam mimpinya. Hatinya sungguh bergetar, tangisnya ditahan takut mengganggu teman lain yang sedang sembahyang kusuk. Ia mangatakan bahwa pura ini merupakan pura penting di Bumi Borneo, dan mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan pura-pura Dang Khayangan di Bali, khususnya dengan Besakih.
2. Lebih aneh lagi dalam perjalanan pulang. Rencangan/pengabih pura itu(naga besar dan kura-kura besar) menyertai Nyoman pulang sampai dirumah. Setelah dibuatkan segehan, baru pengabihnya tersebut kembali dan menghilang. Malam harinya kembali Nyoman didatangi Penguasa pura tersebut dengan Pengabihnya serta.
3. Setelah para tukang yang membangun pura selesai menyelesaikannya, semuanya bermimpi bahwa pura itu sudah selesai diuparacarai oleh umat dari Besakih. Bahkan persiapan sebelum pura itu dibangun juga dilkukan dengan cermat oleh sesuhunan kita di Besakih. Demikian juga setelah disampaikan kepada pimpinan perusahan untuk seger membuatkan ritual Pemlaspasan. Pimpinan perusahan tidak diijinkan melakukan pemlaspasan karena sudah diselesaikan dari Besakih.
4. Pada malam hari sebelum kami berangkat ke pura tersebut, kami berdoa secara khusus untuk membawa sesuatu untuk menyucikan pura tersebut. Saat itu penulis dilarang untuk melakukan hal itu. “Pura itu sudah final, tidak usah diapa-apain lagi. Kalian tinggal sembahyang saja disanaâ€. Kamipun hanya membawa Pejati dan Segehan seperlunya, hanya untuk sembahyang saja.
Banyak pertanyaan yang dapat kita ajukan sehubungan dengan keberadaan pura yang aneh itu. Entah apa yang dikehendaki oleh pura itu sendiri, entah informasi apa yang ingin disajikan kepada kita. Yang jelas, pura itu sudah ada, penyungsungnya tidak ada secara fisik. Siapa yang merawatnya, bagaimana melakukan perawatan karena tempatnya sangat jauh ? Bagaimana kedepan nasib pura itu ?. Ah, . .Biarkan saja, alam yang menghendaki, seisi alam yang menyungsungnya, dan alam juga yang merawatnya. Kita hanya mengharmoniskan diri dengan alam itu, syukuri limpahan kasihnya, rawat alam lingkungan kita. Niscaya alam akan menunjukkan persahabatannya dengan kita.
Entah apalah nama pura itu di alam Niskalanya, dalam diskusi dengan teman-teman terlontar keinginan untuk memberi nama pura tersebut dengan nama “Pura Tajung Keramatâ€. Tetapi Nyoman Arnawa secara pribadi menyarankan nama pura itu “Pura Agung Jagat Natha Keramat Baruna Saktiâ€.
Foto-foto yang berhubungan dengan keberadaan pura tersebut dapat diakses lewat www.nyamakotabaru.multiply.com
OM Samastha Lokha Sukhino Bhavantu
Semoga seluruh alam semesta berbahagia.
Bahasa Sanskerta, Bahasanya para Dewa??
Bahasa Sansekerta: Bahasa Para Dewa? Today at 1:03pm Oleh Roy B.
Efferin*)
Ketika Big Bang atau Dentuman Besar terjadi pada awal terciptanya alam
semesta, sebenarnya tidak ada suara apa pun yang terdengar. Konon, yang
mendengar juga belum ada dan mediumnya pun juga tidak ada. Kata Big Bang
dimunculkan oleh Fred Hoyle pada tahun 1950 untuk menjelaskan
karakteristik alam semesta yang mulai berekspansi dengan cara seketika
seperti ledakan.
Gambaran awal alam semesta ini dilihat oleh teleskop gelombang mikro
milik NASA. Jika Big Bang memang terjadi, gelombang awal yang muncul
pada saat itu akan menjadi gelombang mikro pada saat sekarang. Teleskop
NASA menemukan gelombang mikro yang telah menempuh jarak selama hampir
14 milyar tahun cahaya. Gelombang ini muncul kira-kita 380.000 tahun
setelah Big Bang, kurang lebih bagaikan 12 jam setelah kelahiran seorang
bayi ke dunia.
Secara visual, hanya gelombang mikro yang terlihat melalui teleskop.
Tetapi, gelombang mikro ini memiliki suara. Suara yang pada mulanya
tidak terdengar, tetapi kemudian muncul dalam bentuk desisan, yang
semakin lama pitch atau tinggi-rendah nada desis tersebut akan semakin
menurun. Suara awal ini terdeteksi sebagai noise. Noise yang memenuhi
segala spektrum sehingga mampu menciptakan struktur penciptaan pada
seluruh skala dari bintang hingga galaksi. NewScientist.com
mempublikasikan artikel bahwa alam semesta lahir dengan desisan dan
bukan ledakan. Dalam salah satu link-nya, juga terdapat rekaman suara
awal (http://www.newscientist.com/
Maka, pemahaman Injil Yohanes versi Internasional bahwa "In the
beginning was the Word", menjadi keliru. Bukan Word tetapi Sound,
suara. Suara yang tidak memiliki arti tertentu, tetapi esensial dalam
pembentukan alam semesta. Suara penciptaan awal alam semesta.
Para Resi jaman dahulu sudah mengetahui hal ini selama ribuan tahun.
Mereka melakukan percobaan dengan elemen-elemen alam, kemudian hasil
percobaan itu mereka tuliskan menjadi Veda atau Kitab Pengetahuan.
Menurut Veda, suara awal penciptaan adalah AUM (OM).
Dalam peradaban Sindhu (Hindu) dijelaskan bahwa awal Penciptaan bermula
dari Suara Awal AUM. AUM tidak hanya mengacu pada penciptaan, tetapi
juga menjadi motor penggerak seluruh alam semesta. A adalah simbol
Penciptaan Materi. U adalah simbol Pemeliharaan Energi. M adalah simbol
Pendaur-ulang.
AUM ini kemudian menjadi mantra suci kebudayaan Hindu. Kata Mantra
berasal dari bahasa Sansekerta Manas dan Yantra. Manas artinya, pikiran.
Yantra artinya, alat. Mantra, tidak seperti yang dikenal orang sebagai
jampi-jampi, mempunyai arti "alat untuk menenangkan pikiran".
Kata-kata apa pun yang bisa menenangkan pikiran manusia dapat
dikategorikan sebagai Mantra. Mantra yang diucapkan berulang-ulang dalam
Islam disebut Dzikir. Salah satu Dzikir yang paling umum adalah La Ila
Ha Ila Allah yang artinya, tidak ada Tuhan selain Allah, atau tidak
kebenaran apa pun di luar Tuhan. A-U-M sendiri dalam bahasa Arab menjadi
Alif, Lam, Min. Di dalam bahasa Yahudi, Tuhan atau Kebenaran itu sendiri
tidak memiliki nama. Tetapi, jika tetap harus diungkapkan, maka ungkapan
yang tepat tentang Tuhan atau Kebenaran hanyalah suara yang diucapkan
dalam bentuk gabungan huruf Y-H-V.
Dalam tradisi Kristen, menurut Jnaneshvara Bharati, salah satu mantra
yang bisa dipakai adalah Maranatha. Kata Maranatha disebut dalam surat
St. Paulus kepada umatnya di Korintus dan juga muncul di Kitab Wahyu
Injil. Maranatha berasal dari bahasa Aram (bahasa pergaulan bangsa
Yahudi pada masa Yesus) yang mempunyai dua arti sebagai berikut:
• mara – natha yang artinya "Tuhan datanglah";
• maran – atha yang artinya "Tuhan telah datang".
Dalam cerita Hindu, ketika Ia Yang Tak Bernama, tetapi memiliki tak
terbatas Nama, sedang dalam tidur panjang, suara AUM yang berasal dari
dalam diri-Nya sendiri yang telah membangunkan-Nya. AUM menyebabkan
diri-Nya sadar akan Keberadaan-Nya sendiri. Pada saat ini, Ia pun berada
dalam keadaan Turiya, keadaan keempat yang tak terjelaskan.
AUM ini yang menyebabkan seluruh alam semesta tercipta dan mulai
berekspansi. Mantra AUM dianggap sebagai mantra yang tertinggi dan
disebut sebagai Pranava, awal. Bahkan dalam salah satu Upanishad
(pelajaran dan pengamalan kebenaran), yaitu Mandukya Upanishad,
berbunyi: "AUM – kata ini adalah segalanya: masa lalu, masa
kini, masa depan, bahkan melampaui waktu. Semuanya adalah AUM".
Mandukya (dalam bahasa sansekerta berarti katak) Upanishad adalah hasil
pengalaman seorang Resi yang belajar tentang rahasia Keberadaan-Nya dari
seekor katak. Mandukya Upanishad ini sudah berusia ribuan tahun. Seekor
katak mempunyai kemampuan lebih dibanding binatang lain, karena ia bisa
hidup dalam dua dunia, yaitu air dan darat. Ia dengan mudah dapat
berpindah antara kedua dunia tersebut. Kedua dunia ini oleh sang Resi
tersebut sebagai lambang dari dunia materi dan dunia spiritual.
Masih di dalam Mandukya Upanishad disebutkan pula bahwa alam semesta ini
terdiri atas empat keadaan:
1. Keadaan jaga atau Jagarita: keadaan ketika seseorang bangun tidur dan
melakukan kegiatan sehari-hari. Ini adalah kesadaran materi,
Vaishvaanara. Pada keadaan ini manusia menggunakan panca indera dan
fisiknya untuk berinteraksi dengan alam sekitarnya. Keadaan jaga adalah
setara dengan suara dari huruf "A" pada AUM.
2. Keadaan tidur dengan mimpi atau Svapna: keadaan ketika seseorang
sedang bermimpi dalam tidur. Di sini kesadaran yang berkuasa adalah
energi, tajas. Energi memiliki massa, tetapi tidak memiliki bobot
sehingga dapat dengan mudah berubah bentuk. Dalam mimpi seseorang bisa
mengalami apa pun yang ketika jaga tidak mungkin terjadi. Bahkan
seseorang bisa menciptakan apa pun secara instan dalam dunia mimpinya
itu. Pikiran, dalam hal ini alam bawah sadar, menjadi penguasa dari alam
mimpi ini. Keadaan bermimpi adalah setara dengan suara dari huruf
"U" pada AUM.
3. Keadaan tidur tanpa mimpi atau deep sleep (Susupti): keadaan ketika
seseorang tidur lelap tanpa mimpi sedikit pun. Pada saat itu yang
terjadi adalah kekosongan. Ketika kesadaran materi dan energi hilang,
pada saat itulah kesadaran atau prajna ini muncul. Kesadaran atau prajna
adalah sebab dari keadaan jaga dan tidur bermimpi. Kedua keadaan pertama
ada karena keadaan deep sleep ini. Keadaan tidur tanpa mimpi adalah
setara dengan suara dari huru "M" pada AUM.
4. Keadaan Turiya: keadaan yang tidak terjelaskan. Keadaan yang
melampaui semuanya, melampaui baik-buruk, melampui ilusi-realita,
melampaui krodh (amarah), melampaui kaam (nafsu), melampaui lobh
(keserakahan), dan melampaui moh (keinginan duniawi).
Resi jaman dahulu bukan saja ilmuwan praktis, tetapi juga seorang
psikolog ulung.
Ketiga keadaan pertama di atas dalam psikologi sekarang dikenal sebagai:
Kesadaran jaga (consciousness); kesadaran alam bawah sadar (sub
consciousness); kesadaran supra (super consciousness). Sementara keadaan
keempat, kesadaran no-mind yang melampaui ketiga kesadaran sebelumnya
tidaklah dikenal oleh pemikiran Barat, tetapi sudah dikenal dalam
peradaban Timur. Keadaan keempat inilah yang disebut Pencerahan Buddha
atau Kesadaran Kristus.
Hansberger, seorang ilmuwan Jerman setelah Perang Dunia Pertama,
menemukan bahwa kesadaran mempunyai kaitan erat dengan frekuensi
gelombang otak. Gelombang otak adalah frekuensi pancaran otak yang
direkam dengan electroencephalogram (EEG). Gelombang Beta mempunyai
frekuensi 14 sampai 28 siklus per detik. Ini adalah kesadaran jaga kita.
Ketika kita sedang tegang, kuatir, atau sibuk dengan kegiatan yang
menguras otak, maka Gelombang Beta yang mendominasi otak kita.
Gelombang berikutnya adalah Gelombang Alpha dengan panjang gelombang 8
sampai 13 siklus per detik. Pada gelombang ini seseorang masih berada
dalam kesadaran jaga, tetapi dalam kondisi yang rileks, kreatif, bebas
dari kekhawatiran – atau sering disebut sebagai kondisi meditatif
ringan. Pada kondisi ini seseorang belum sampai pada keadaan tidur,
namun pikirannya sudah tidak lagi aktif. Kondisi ini adalah kondisi
netral di mana panca indera bekerja maksimal sehingga seseorang akan
menjadi sangat "awas".
Banyak latihan-latihan beladiri yang memiliki unsur meditasinya
bertujuan agar orang tersebut mencapai Gelombang Alpha sehingga tubuh
dapat merespons dengan cepat. Contoh: Tai Chi, Aikido, dan Ba Gua Chuan
sering disebut moving zen, karena beberapa latihan-latihannya
menginduksi gelombang otak untuk mencapai Gelombang Alpha. Respons tubuh
dengan cara ini berbeda dibanding ketika hormon adrenalin seseorang
bekerja. Seseorang yang hormon adrenalinnya sedang bekerja, maka
tubuhnya juga akan merespons dengan cepat, tetapi pada saat itu hanya
kesadaran binatang (insting) yang terletak di batang otak yang aktif.
Kedua gelombang Beta dan Alpha adalah keadaan jagarita.
Gelombang yang sedikit lebih panjang lagi adalah Gelombang Theta yang
mempunyai frekuensi dengan siklus 4-7 kali per detik. Inilah keadaan
Svapna. Umumnya kondisi jaga anak-anak berada pada frekuensi ini,
sementara orang-orang dewasa jarang yang berfrekuensi Theta pada kondisi
jaga. Pada orang-orang dewasa, kondisi ini sering muncul menjelang tidur
dan ketika sedang mengalami mimpi sehingga berhubungan langsung dengan
alam bawah sadar orang tersebut. Seseorang yang sedang dalam kondisi
meditatif secara mendalam, kreatifitas yang tinggi, dan reseptif
terhadap hal-hal paranormal sebenarnya juga sedang mengalami Gelombang
Theta. Tidak heran bila kita sering kali tidak bisa membedakan dengan
tepat keadaan seseorang yang sedang bermimpi dengan seseorang yang
sedang berhalusinasi. Pada saat bermimpi, seseorang mengalami REM (Rapid
Eye Movement) atau mata bergerak dengan cepat.
Seseorang yang mengalami sleepwalking atau berjalan sambil tidur,
gelombang otaknya pun juga berada pada tingkat ini. Tetapi, ketika
bangun ia tidak ingat sama sekali apa yang telah dilakukannya, karena ia
sebenarnya berada dalam alam mimpi. Seseorang yang berada dalam alam
mimpi, umumnya ketika bangun tidur tidak ingat mimpi apa yang
dialaminya.
Gelombang keempat adalah Gelombang Delta yang mempunyai frekuensi dengan
siklus 1 - 3 per detik. Gelombang ini muncul pada saat seseorang berada
dalam kondisi tidur tanpa mimpi (deep sleep) atau meditasi yang sangat
dalam. Inilah keadaan susupti ketika Prajna memegang kendali.
Sampai saat ini, ilmuwan masih dapat memetakan hingga deep sleep.
Tetapi, ribuan tahun yang lalu para Resi sudah mengenal hingga tahap
berikutnya yang disebut Turiya. Pada saat itu, seseorang akan mempunyai
gelombang otak 0 siklus per detik. Akan sangat lama bagi para ilmuwan
masa kini untuk membuktikan frekuensi 0 siklus per detik. Mereka akan
menganggap seseorang yang berada pada kondisi itu telah mati secara
klinis. Tapi, bagi para Resi, seseorang yang mati secara klinis belumlah
mencapai kondisi Turiya. Bagaikan transmiter rusak, otak tidak
memancarkan frekuensi apa pun karena otak sudah tidak berfungsi. Tapi,
di lain pihak, penelitian pernah membuktikan bahwa seorang Yogi dapat
menurunkan frekuensi otaknya hingga hampir 0 siklus per detik. Setiap
beberapa menit atau jam, otak yang kelihatannya datar mengalami spike
atau lonjakan. Frekuensinya menjadi satu dibagi beberapa ratus siklus
per detik, tetapi tetap belum mencapai 0.
Gelombang otak manusia hanyalah medium. Apa yang dipancarkan bersama
gelombang otak tersebut bisa berlainan. Jika tiga orang yang sedang
tidur bermimpi dan ketiganya berada pada gelombang yang sama, maka tidak
berarti ketiga orang tersebut bermimpi hal yang sama, meskipun
kadang-kadang hal tersebut bisa terjadi. Seperti modem internet pada
komputer yang menggunakan kabel telpon untuk mengirimkan sinyal-sinyal
berupa data-data komputer. Data-data yang dikirim melalui sinyal-sinyal
pada kabel telepen itu sesungguhnya dikonversikan ke dalam bentuk suara.
Demikian juga pikiran manusia menggunakan medium gelombang otak hingga
mampu dialami oleh seluruh bagian tubuh.
Pada saat seseorang sedang tertidur dan mengalami mimpi buruk, dia akan
terbangun sambil berkeringat dingin serta jantung berdebar-debar. Apa
yang hanya dialami dalam alam mimpi (kesadaran kedua), secara fisik
dirasakan oleh tubuh dalam kesadaran jaga. Jadi, batas antara keempat
keadaan tersebut tidak sejelas yang dikira.
Dalam alam mimpi seseorang hampir tidak bisa "berpikir". Bahkan
untuk menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi pun tidak bisa. Ketika ia
menyadari dirinya sedang bermimpi, maka sebetulnya saat itu ia sedang
tidak bermimpi. Svami Anand Krishna dalam ceramahnya pernah meyinggung
bahwa pernyataan "Saya sedang tidur" tidak mungkin terjadi.
Meskipun secara tata bahasa adalah benar, tetapi jika seseorang sedang
tidur, maka ia tidak akan tahu dirinya sedang tidur. Pengetahuan bahwa
dirinya tidur baru bisa disadari ketika orang tersebut sudah keluar dari
tidurnya.
Kembali kepada soal vibrasi materi atau energi. Fisika Modern telah
membuktikan bahwa seluruh alam semesta ini sedang bervibrasi. Alam
semesta mempunyai getaran yang saling tumpang tindih dengan rentang
frekuensi yang tidak terbayangkan. Karena semua adalah vibrasi dengan
frekuensi tertentu, maka manipulasi elemen atau materi di alam semesta
ini pun bisa dilakukan dengan frekuensi tertentu pula. Salah satu metode
yang digunakan oleh para Resi adalah menggunakan simbol-simbol.
Simbol-simbol dengan kombinasi tertentu dapat menciptakan hasil yang
spesifik. Simbol-simbol ini kemudian dikumpulkan dan sekarang dikenal
sebagai "Bahasa Sansekerta", yang artinya "telah
disempurnakan".
Bahasa Sansekerta adalah bahasa teknik karena dirancang khusus untuk
keperluan tertentu. Bahasa Sansekerta bukanlah bahasa percakapan
sehari-hari. Bahkan menurut penelitian ilmuwan NASA, Badan Penerbangan
Angkasa Amerika Serikat, Bahasa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa
yang bisa diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa pemrograman
komputer.
Sementara bahasa-bahasa lain membutuhkan parser (untuk memisahkan
sintaksis) agar dapat dimengerti komputer dan membutuhkan karakter
alfanumerik (angka dan tanda baca), Bahasa Sansekerta mampu melakukannya
dengan jelas tanpa keduanya. Tidak heran selama ribuan tahun Bahasa
Sansekerta dipakai sebagai bahasa tulisan dalam berbagai bidang profesi,
seperti matematika, hukum, filsafat, linguistik, astronomi, kedokteran,
sastra dan lain sebagainya.
Kembali kepada AUM, setiap pengucapan A-U-M dengan intonasi dan nada
tertentu akan menghasilkan efek tertentu. Distorsi pada suara awal AUM
menciptakan perbedaan frekuensi yang disebut Dvhani atau pola frekuensi.
Perbedaan pola ini disebut Varna yang kemudian menjadi suku kata
Sansekerta. Kata "warna" dalam bahasa Indonesia juga berasal
dari Varna dari Bahasa Sansekerta, yang sebetulnya merujuk pada rentang
frekuensi yang beraneka ragam. Setiap warna memiliki rentang frekuensi
sendiri.
Dalam dunia medis saat ini terapi warna sudah mulai diterima sebagai
terapi komplementer. Prinsip dasar dari terapi warna adalah agar setiap
organ atau anggota tubuh bekerja pada rentang frekuensi tertentu. Jika
organ tersebut frekuensi kerjanya berubah, organ tersebut akan mengalami
gangguan fungsi.
Dalam terapi warna, setiap warna akan memberikan respons yang berbeda ke
syaraf-syaraf otak dan dari otak diteruskan ke organ-organ tertentu yang
juga beroperasi pada rentang frekuensi tertentu. Sebagai contoh,
seseorang yang mengalami gangguan pada ginjal dapat terbantu proses
pemulihannya jika ia melihat warna oranye. Warna ini akan merangsang
syaraf-syaraf di otak dan mengaktifkan hormon tertentu. Selain itu
impuls-impuls tersebut akan diteruskan ke ginjal dan membuat ginjal
kembali bekerja pada rentang frekuensinya sendiri.
Bahasa Sansekerta sendiri dianggap sebagai bahasa tertua dan
terstruktur, karena sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan aksara
pembentuknya berasal dari perbedaan frekuensi. Contohnya adalah sebagai
berikut. "Aa" adalah aksara pertama dan "Ha" adalah aksara
terakhir.Ketika dua aksara tersebut digabung, maka hasilnya adalah
"Aham" yang artinya adalah Aku.
Dalam bahasa Yunani, awal adalah alpha dan akhir adalah omega. Tradisi
Kristen mengatakan bahwa Tuhan adalah awal dan akhir. Alpha dan Omega.
Di tengahnya inilah manusia. Bandingkan dengan bahasa Sansekerta yang
juga mengatakan bahwa di antara Awal dan Akhir itulah "Sang Aku"
(Tuhan) berada.
Contoh lain dari struktur kata pada Bahasa Sansekerta: Padartha yang
artinya adalah Materi, terdiri atas dua kata, Pada artinya Kata atau
Suara, serta Artha bermakna tujuan atau arti. Suara + Arti = Materi.
Dalam bahasa Fisika Kuantum, bisa diartikan sebagai: vibrasi suara yang
diucapkan dengan tujuan tertentu akan membentuk materi. Dan memang
materi inilah yang akan mencul. Setiap vibrasi adalah energi. Setiap
tujuan atau niat juga memiliki massa. Maka, yang terjadi adalah materi
yang memiliki energi dan massa.
Dalam keadaan jaga, materi yang tercipta tidak akan terlihat. Tetapi,
setiap energi tidak pernah musnah. Apa pun yang pernah ada, akan tetap
ada dan hanya berubah bentuk. Bentuk dan komposisi bisa berubah-ubah
meski substansinya tidak.
Dalam keadaan tidur bermimpi, energi (tajas) adalah dominannya. Pada
saat itu, pengertian Padartha akan lebih mudah dimengerti. Suara apa pun
yang muncul ditambah dengan niat tertentu akan menciptakan wujud
tertentu pula secara seketika. Setiap orang pasti mengalami hal ini
ketika ia sedang bermimpi.
Satu-satunya perbedaan antara orang awam dan para Resi adalah Resi sadar
bahwa mereka sedang berada di alam mimpi. Tidak ada mimpi yang
sedemikian buruk atau sedemikian nikmat yang dapat mempengaruhi tubuh
jaga seorang Resi. Karena mereka menyadari bahwa mimpi ini pun adalah
proyeksi pikiran mereka sendiri. Maka dengan sangat mudah para Resi akan
dapat menghentikan atau mengubah mimpinya dengan seketika.
Sementara itu, orang awam baru menyadari bahwa mereka sedang bermimpi
hanya ketika sudah bangun dari tidurnya. Orang awam akan terbawa oleh
mimpinya dan jika mimpinya sangat intens, efek pada tubuh jaga akan
terasa besar juga. Tubuh sedang beristirahat, jantung sedang berirama
dengan normal, tetapi jika seseorang bermimpi buruk – meskipun
mereka tidak ingat dengan mimpinya ketika bangun – maka jantungnya
akan berdebar sedemikian kencang seperti mau meledak, napas
tersengal-sengal, dan dada terasa sesak. Penelitian membuktikan bahwa
serangan jantung paling sering terjadi di pagi hari. Jika terasa tidak
masuk akal, ingatlah bahwa Fisika Modern memang sering "tidak masuk
akal", tetapi bisa dibuktikan.
Bahasa Sansekerta diperkirakan telah berusia minimal antara 4000-7000
tahun dan menjadi dasar dari banyak bahasa-bahasa klasik di Eropa
seperti Yunani, Latin dan Romawi. Tidak mengherankan jika Bahasa
Sansekerta digunakan dalam kitab Veda (Pengetahuan) yang sering dianggap
sebagai kitab suci dari peradaban Hindu.
Aksara-aksara yang digunakan dalam Bahasa Sansekerta disebut Devnagari
(bahasa atau tulisan para Dewa). Dewa atau Malaikat, sesungguhnya,
adalah elemen-elemen dasar pembentuk materi. Melalui Bahasa Sansekerta,
seseorang dapat berinteraksi langsung dengan elemen-elemen alam. Karena
seluruh aksara berasal dari variasi frekuensi, maka mantra-mantra
Sansekerta yang disuarakan dengan benar akan menciptakan vibrasi
tertentu dan mempengaruhi semua tingkat fisik, emosi, mental, energi,
dan spiritual. Bahkan, menilik teori Fisika Modern di atas, vibrasi
tertentu akan dapat menciptakan materi, meski untuk mewujudkannya
dibutuhkan energi yang luar biasa besar.
Bahasa Sansekerta sendiri mengalami beberapa kali perubahan tata bahasa.
Tata bahasa disebut sebagai vyakarana, yang arti harafiahnya
"analisa yang dibedakan". Tata bahasa terakhir Sansekerta dibuat
oleh Panini pada 1300 SM (ada yang menyebut 500 SM) yang menjadi tata
bahasa terpendek, tetapi terlengkap di seluruh dunia. Panini menyebut
tata bahasa ini sebagai Ashtadhyayi. Dalam 4000 ayat-ayat pendeknya,
beliau menunjukkan bagaimana kerja Bahasa Sansekerta dan kombinasi yang
bisa muncul baik arti maupun efeknya secara filosofis.
Ilmuwan NASA telah membuktikan bahwa Sansekerta adalah satu-satunya
bahasa yang dapat mengekspresikan setiap kondisi yang ada di alam
semesta dengan jelas. Dengan struktur bahasa yang sempurna, Bahasa
Sansekerta dapat dan telah digunakan sebagai Bahasa Kecerdasan Buatan,
Artificial Intelligence.
Rigg Briggs, seorang peneliti NASA, menjelaskan bahwa struktur Panini
bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan
sistematis tanpa perlu menggunakan karakter alfanumerik yang sekarang
dipakai dalam semua bahasa tingkat tinggi komputer. Bahasa tingkat
tinggi artinya, bahasa yang menyerupai bahasa manusia dan merupakan
jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer). Bahasa tingkat
tinggi ini berkebalikan dengan bahasa mesin (bahasa tingkat rendah) pada
komputer yang terdiri atas kombinasi biner: 0 dan 1 (open and close
positions).
Penelitian-penelitian tentang bagaimana aturan-aturan Panini dapat
diterapkan dalam software sedang dilakukan di banyak tempat seperti
Akademi Penelitian Sansekerta dan Siddhaganga Mutt di Karnataka. Bahkan
dalam linguistik, aturan ini pun dapat diterapkan karena aturan Panini
juga melingkupi aktivitas otak dan cara kerja suara manusia. Contoh,
lebih mudah mengatakan jagat + naatha sebagai jagannaatha (dalam Bahasa
Sansekerta) atau abd-ul + rahman sebagai abd-ur-rahman (dari Bahasa
Semit) – keduanya mengikuti aturan fonetik Panini. Hal ini juga
berarti bahwa bahasa Semit pun berasal dari Sansekerta. Diperkirakan
sebagian besar bahasa-bahasa kuno di bumi seperti bahasa Persia, Yunani,
Teutonic, dan Celtic berasal dari Sansekerta.
Setiap mekanisme tata bahasa dalam Bahasa Sansekerta sudah
disempurnakan. Setiap penjelasan tentang kondisi emosi serta berbagai
kondisi lainnya sudah baku dan tidak mengalami perubahan selama ribuan
tahun. Bahasa Sansekerta tidak mengalami penambahan kata baru karena
semuanya sudah ada, termasuk materi apa pun di muka bumi sudah ada
istilahnya. Jika para Resi sudah mengetahui tentang sistem ucapan
manusia yang canggih ini pada ribuan tahun yang lalu, maka para ilmuwan
Barat baru menyadarinya pada abad ini.
Tetapi, bahasa peninggalan dari Sindhu tidak saja muncul di India dan
melebar ke Eropa. Di Indonesia peradaban yang mirip sudah ada sejak
ribuan tahun yang lalu. Bahasa Indonesia akarnya berasal dari Melayu dan
bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Tetapi, bahasa-bahasa daerah di
Indonesia banyak yang berasal dari bahasa Sansekerta. Contoh, varna di
Indonesia dikenal sebagai warna; Bhumi menjadi bumi; dev menjadi
dewa/dewi; jiiva menjadi jiwa, dan lain sebagainya.
Bahasa Daerah Jawa tidak menggunakan huruf alfabet a-z, tetapi
menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka yang masing-masing mempunyai arti
filsafatnya. Bahasa Jawa dan Bali menggunakan aksara yang sama meskipun
dengan pengucapan yang berbeda. Aksara-aksara ini mempunyai kemiripan
dengan aksara-aksara bahasa Telugu yang digunakan di India Selatan.
Hal-hal seperti ini menunjukkan ketinggian suatu budaya di mana suatu
kata tidak terbentuk oleh sekedar alfabet, tetapi aksara dengan lafal
yang berirama, mempunyai vibrasi, dan arti tertentu. Satu pepatah bahasa
Jawa yang menggambarkan keadaan ini berbunyi: "Basa iku busananing
Bangsa", yang artinya budi pekerti seseorang atau suatu bangsa akan
terlihat melalui bahasa yang dituturkannya
Bandingkan dengan alfabet Romawi yang kita pakai sekarang (huruf a
sampai z) di mana lafal serta penggunaannya tidak konsisten. Sayangnya,
kedalaman budaya lokal Indonesia telah dianggap kadaluarsa oleh sebagian
orang-orang Indonesia padahal dunia Barat justru mulai melakukan
penelitian mendalam terhadapnya.
*) Tulisan ini diambil dari buku berjudul "Sains dan
Spiritualitas", terbitan PT One Earth Media, 2006, karya Roy B.
Efferin -- seorang yang menekuni dunia Sains, Spiritualitas, dan Aikido.
Rabu, 21 April 2010
VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA
VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA
1
(Scientific Verification of Vedic Knowledge)
Dr. Made Wardhana
om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakayacaksur unmilitam yena tasmai sri-gurave namah
PENDAHULUAN
Berbicara tentang weda, semua orang akan memahami yang artinya pengetahuan, pada awalnya pengetahuan disampaikan langsung dari sumber yang aslinya yaitu Personalitas Tuhan sebagai Adiguru (Omni-scince), yang maha mengetahui dan kemudian diteruskan kepada personalitas-personalitas agung yang dikuasakan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan sejati yang bersifat kekal, karena bersumber dari Personalitas Tertinggi dan yang kekal. Perkembengan berikutnya karena keterikatan manusia dengan duniawi, serta perputaran yuga dari Satya yuga sampai Kali yuga, manusia lebih mengutamakan pengetahuan duniawi dengan dalih untuk kesejahteraan umat manusia. Sains modern yang dihasilkan dari olah pikir manusia dengan metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sesuai dengan sastra ada dua jenis pengetahuan : pengetahuan modern yang bersifat relatif (pengetahuan yang diterima diperguruan tinggi) dan pengetahuan sejati yang bersifat absolut. Dalam upanisad dinyatakan : "tasmai sa hovaca : dve vidye vediavye iti ha sma yad brahmavido vadanti, para vaivapara ca" dua macam pengetahuan hendaknya dimengerti yaitu pengetahuan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah (Mundaka upanisad I.1.4). Jelas disebutkan pengetahuan yang lebih tinggi (paravidya) yaitu pengetahuan tentang Brahman, kebenaran mutlak dan aparavidya pengetahuan duniawi yang bersifat relatif. Para ilmuwan umumnya kurang memahami aspek paravidya, dan lebih terbuai dengan aparavidya. Sebagai contoh, biologi adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang kehidupan, banyak kajian tentang bentuk-bentuk jasad(spesies), anatomi-fisiologi, perilakunya dan lainnya yang semuanya masih bersifat kajian material, belum menyentuh tentang sumber atau tenaga rohani yang menyebabkan sesuatu disebut mahluk hidup, yaitu keberadaan sang roh atau tenaga rohani Tuhan(para-prakrti). Tanpa adanya partikel rohani (roh) ini, mahluk hidur tidak akan berkembang. -
Langganan:
Postingan (Atom)